NGV6NWVbMWV9MGJbMWV8NWp7M7csynIkynwdxn1c
Pengabdian?

Pengabdian?

Ketika mendengar kata "Pondok Pesantren" maka bayangan kita langsung tertuju kepada santri yang keseharian-nya selalu disibukkan dengan belajar ilmu-ilmu agama terutama Islam atau yang lebih sering disebut dengan ilmu syar'i.

Terbayang kepada pakaian mereka yang Islami (jubah, sarung, baju koko, kopiah dan sorban untuk santri putra dan khimar, niqob, gamis, kain panjang dan baju longgar untuk santri putri). Terbayang kepada keseharian mereka yang selalu belajar kitab-kitab Arab, terbayang kepada asrama atau pondok yang terpisah antara santri putra dan santri putri dan masih banyak lagi yang lainnya dimana setiap orang selalu membayangkannya dengan berbeda-beda. Itulah dunia pesantren yang penuh dinamika, makna dan realita kehidupan para pencari jati diri.

Sekilas tentang pesantren, dilansir pada Wikipedia umumnya suatu pondok pesantren berawal dari adanya seorang kiai yang menetap di suatu tempat, kemudian datang santri yang ingin belajar agama kepadanya. Setelah semakin hari semakin banyak santri yang datang, timbullah inisiatif untuk mendirikan pondok atau asrama di samping rumah kiai. Pada zaman dahulu kiai tidak merencanakan bagaimana membangun pondoknya itu, namun yang terpikir hanyalah bagaimana mengajarkan ilmu agama supaya dapat dipahami dan dimengerti oleh santri. Kiai saat itu belum memberikan perhatian terhadap tempat-tempat yang didiami oleh para santri, yang umumnya sangat kecil dan sederhana. Mereka menempati sebuah gedung atau rumah kecil yang mereka dirikan sendiri di sekitar rumah kiai. Semakin banyak jumlah santri, semakin bertambah pula gubuk yang didirikan. Para santri selanjutnya memopulerkan keberadaan pondok pesantren tersebut, sehingga menjadi terkenal ke mana-mana, contohnya seperti pada pondok-pondok yang timbul pada zaman Wali Songo.

Pondok pesantren di Indonesia memiliki peran yang sangat besar, baik bagi kemajuan Islam itu sendiri maupun bagi bangsa Indonesia secara keseluruhan. Berdasarkan catatan yang ada, kegiatan pendidikan agama di Nusantara telah dimulai sejak tahun 1596. Kegiatan agama inilah yang kemudian dikenal dengan nama pondok pesantren. Bahkan dalam catatan Howard M. Federspiel, salah seorang pengkaji keislaman di Indonesia, menjelang abad ke-12 pusat-pusat studi di Aceh (pesantren disebut dengan nama dayah di Aceh) dan Palembang (Sumatera), di Jawa Timur dan di Gowa (Sulawesi) telah menghasilkan tulisan-tulisan penting dan telah menarik santri untuk belajar.

Dunia pesantren lebih banyak diisi dan dirasakan oleh para santri, umumnya mereka memilih mondok (mukim) karena alasan jauh dari rumah asal, ada juga karena sebagai tempat untuk membentuk karakter. Sehingga istilah pondok pesantren dikenal dengan beberapa istilah seperti penjara suci, bengkel rohani bahkan sampai dengan alih kebudayaan. Masa pendidikan santri selama 'nyantri' cukup beragam, ada yang 3 tahun (bagi pesantren yang memiliki lembaga formal seperti Aliyah, Tsanawiyah) ada juga sampai 6 tahun dan 8 tahun tergantung seberapa besar pemahaman mereka terhadap ilmu.

Dalam dunia pesantren ada satu istilah yang sangat kental dan pasti ada di seluruh pesantren manapun, baik pesantren tradisional hingga pesantren modern pun ada. Istilah itu ialah "ngabdi/ pengabdian", pengabdian merupakan sebuah istilah bagi para santri yang ngabdi kepada pesantren. Ngabdi sendiri beragam bentuknya, ada yang ngabdi di pondok pesantren, di masyarakat, di sekolah, di lembaga dan lainnya. Ngabdi yang seperti ini terikat waktu yang berkisar antara 1-2 tahun baik ngabdi di lingkungan pesantren dimana santri belajar maupun di luar daerah.

Seperti pondok pesantren pada umumnya, di Pondok Pesantren Ar Rasyid Wonogiri ini juga menerapkan sistem ngabdi selama 1 tahun bagi alumninya yang telah menyelesaikan pendidikan di jenjang Aly selama 3 tahun (setara D3). Setelah santri diwisuda, mereka ditempatkan di berbagai tempat yang berbeda untuk menjalankan masa pengabdian masing-masing. Untuk alumni tahun 2021 ini ada yang ngabdi di Pondok Pesantren Rooihatul Jannah Hidayatullah Sukoharjo atau lebih dikenal dengan sebutan Pondok Roja, ada yang di Ponpes Tahfizhul Quran Muhammadiyah Atmo Wahjono Sukoharjo, ada yang di Pondok Pesantren Ibnu Abbas As-Salafy Sragen, ada juga di SMP Muhammadiyah Purwodadi dan sebagian besar ngabdi di Pondok Pesantren Ar Rasyid Wonogiri tercinta ini.

Salah Satunya itu Aku

Aku dan ketujuh rekanku ditugaskan untuk melaksanakan pengabdian di Pondok Pesantren Ar Rasyid Wonogiri ini, tempat dimana kami mengenyam pendidikan selama 3 tahun bersama sama, tempat kami berjuang dari keegoisan ingin bersenang-senang di dunia luar seperti teman-teman kebanyakan, tempat kami belajar bersabar menahan rindu kepada keluarga dan hanya bisa berdoa untuk mencurahkannya. Ya.. kami hanyalah manusia biasa yang ingin selalu taat dan bisa istiqomah menjalankan perintah Allah Azza Wa Jalla dan Rosul-Nya. Karena kami tahu bahwa salah satu tempat untuk kita bisa selalu istiqomah dalam kebaikan adalah pondok pesantren. Untuk itulah kami masih bertahan disini, belajar Bahasa Arab, ilmu syar'i, menghafal Al-Quran, hadits, berorganisasi, bersosialisasi dengan masyarakat, menghargai orang lain dan masih banyak lagi.

Tak pernah terbayang dan terlintas di pikiran kami sekalipun, bahwa kami akan melaksanakan pengabdian di pondok sendiri, yang awalnya kami hanyalah jadi santri yang mengurus diri sendiri sekarang harus mengurusi banyak santri, membersamai mereka setiap hari, mengontrol, menghukum, ada saatnya harus jadi sahabat mereka, ibu dan juga guru. Banyak lika-liku yang kami hadapi semenjak menjadi pengabdian. Dan itulah bumbu-bumbu yang harus kami hadapi untuk bisa menyelesaikan perjuangan ini.

Ketiga rekanku ditugaskan di Ma'had Aly atau yang biasa disebut dengan Masyid (Ma'had Aly Ar Rasyid) sedangkan aku dan keempat rekanku ditugaskan di KMI Ar Rasyid Putri. Kami di KMI Ar Rasyid tidak hanya berlima namun kami bertujuh, ada tambahan dua teman dari Pondok Pesantren Islam Hidayatunnajah Bekasi sehingga lengkaplah sudah formasi kami. Alhamdulillah walaupun dua teman tadi berbeda almamater dengan kami tapi mereka bisa segera menyesuaikan dan mengenal satu sama lain dengan baik sehingga membuat kami mudah bekerja sama menjalankan tugas. Syukur alhamdulillah dengan perbedaan itu membuat kami semakin bertambah wawasan, karena dengan berdiskusi bersama mereka tentang bagaimana ketika di pondok mereka dulu, bagaimana sistemnya, bagaimana keseharian santrinya, bagaimana asatidzahnya, dan banyak cerita lainnya sehingga kami bisa berkolaborasi dengan baik.

Hari pertama kami dimulai dengan rapat bersama kepala KMI Ar Rasyid, Ustadz Yani pada saat itu. Diceritakan kepada kami terlebih dahulu bagaimana kondisi KMI Ar Rasyid, beliau juga berpesan kepada kami untuk bisa menjalankan tugas dengan baik. Kemudian barulah beliau membacakan pembagian tugas dan menjelaskan SOP-nya dengan sangat jelas dan sabar agar kami bisa memahaminya dengan baik. Ada yg ditugaskan di bagian kesantrian, tahfidz, pendidikan, ibadah, kebersihan, bahasa, dapur, keamanan, dll.

Tibalah hari dimana santri baru datang untuk pertama kalinya, mereka berbondong-bondong datang dengan diantar keluarganya. Terlihat begitu bersemangat dan bahagia terpancar dari wajah berseri mereka seperti tidak sabar menjalani hari-hari sebagai santri. Namun kebahagiaan itu ternyata menyisakan kesedihan setelah mereka sadar dalam berjuang di sini mereka harus berpisah sementara waktu dengan keluarga tercintanya. Inilah saatnya kami menjalankan tugas yang sebenarnya sebagai pengabdian, kami segera menyambut mereka dengan senyum ceria dan keramah tamahan, berkenalan secara personal dengan mereka, membantu mereka berberes almari dan ranjang baru mereka, mengenalkan dengan kakak kelas mereka yang baru, mencoba membantu mereka beradaptasi dengan lingkungan dan orang-orang baru di sini agar mereka merasa aman, nyaman dan betah untuk belajar di sini kedepannya.

Sebelum mereka menerima pelajaran di kelas dan menjalankan rutinitasnya disini, mereka ada tahap pengenalan, yaa bisa disebut seperti MOS (Masa Orientasi Santri). Kurang lebih selama tiga hari mereka diperkenalkan dengan lingkungan pondok, para pengajar di pondok, sistem di dalam pondok, sejarah berdirinya pondok, adab-adab keseharian, fiqih sholat dan wudhu, cara mencuci, melipat dan menata baju di almari serta banyak bekal yang bermanfaat untuk mereka bisa menjalani hari-hari sebagai santri. Tak lupa kami juga mengajak mereka bermain game dan jalan jalan sedikit di lingkungan luar pondok, agar mereka bisa lebih enjoy dan bersemangat belajar bersama di sini dan terlupakan sejenak dengan kesenangan-kesenangan yang ada di rumah.

Hari-hari berjalan dengan begitu cepat, setiap harinya kami disibukkan dengan kegiatan bersama santri. Mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi santri selalu terpantau dengan baik. Pagi setelah Shubuh kami sudah harus siap menyimak hafalan Al Qur'an santri, dilanjut ketika jam pelajaran di kelas kami juga harus mengajar mapel, hingga siang setelah Zhuhur kami ganti menyimak hafalan hadits, tak lupa setiap sore setelah shalat Ashar kami menyimak hafalan Al Qur'an lagi, setelah Magrib dan Isya' pun juga sama menyimak hafalan Al Qur'an santri. Belum selesai sampai di sini, karena setiap pukul 20.00 WIB santri diwajibkan untuk belajar malam dan disitu kami juga harus mengontrol mereka ketika belajar. Setelah pukul 21.00 WIB santri diwajibkan untuk apel malam sebelum tidur untuk membacakan poin poin pelanggaran selama satu hari ini, kemudian dilanjutkan dengan dzikir sebelum tidur bersama sama hingga akhirnya tibalah waktu santri untuk beristirahat mengumpulkan tenaga dan memperbarui semangat untuk esok hari.

Ketika santri istirahat bukan berarti itu adalah waktu istirahat untuk kami juga. Karena besok pagi kami harus mengajar mapel di kelas jadi kami harus mempersiapkannya di malam hari. Ditambah lagi karena aku dan beberapa teman ada yang masih menempuh pendidikan S1 maka kami harus bisa memanfaatkan waktu malam untuk bisa mengejar deadline-deadline yang harus kami penuhi. Waktu malam menjadi sangat berharga bagi kami, karena di waktu itu kami bisa melakukan kewajiban-kewajiban yang tidak bisa kami lakukan ketika pagi atau siang hari.

Inilah pengalaman yang belum pernah kami dapatkan ketika menjadi santri. Dan hanya kami dapatkan ketika menjadi pengabdian. Dulu ketika masih nyantri, kami melihat ustadz dan ustadzah itu enak yaa tugasnya hanya ngajar. Tapi ternyata setelah kami terjun di dunia para pengajar kami menjadi tahu bahwa semuanya tidak sesederhana itu. Kami harus bisa memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Dan menurutku menjadi santri itu adalah waktu yang paling membahagiakan. Karena kami hanya dituntut untuk terus belajar, belajar dan belajar, tanpa harus memikirkan besok ngajar tapi belum belajar, atau besok mau imtihan tapi belum membuat soal, atau besok harus ngajar dengan metode apa yaa. Yang semua itu hanya ada di pikiran para pengajar saja.

Ketika harus terlihat seperti Malaikat

Tinggal di dalam lingkungan pondok dengan banyak orang, dengan banyak sifat dan perbedaan latar belakang lama-kelamaan pastilah muncul sedikit ketidakseimbangan. Begitulah gambarannya, setelah bersama dengan santri setiap hari beberapa bulan lamanya, Allah memberikan ujian kesabaran untuk kami hadapi. Karena sama sama perempuan yang lebih mengedepankan perasaannya, sehingga hati kami dengan santri sedikit bersenggolan. Santri yang awalnya manis, ceria, penurut, mudah diatur, semangat dalam belajar, menghormati gurunya, secara tiba-tiba berubah menjadi santri yang berkebalikan dari sebelumnya. Walaupun tidak semuanya dan hanya sekelompok kecil, namun pengaruhnya sangat cepat menyebar ke santri yang lainnya. Sehingga terasa seperti tidak ada lagi santri yang sepihak dengan kami.

Pengabdian tidak boleh melakukan kesalahan, jika pengabdian melakukan kesalahan maka santri halal untuk menirunya kira-kira begitulah pemikiran sebagian santri (santri yang mencari keamanan dalam berbuat salah). Santri menuntut kami untuk selalu perhatian dengan mereka semua, peduli dengan mereka, tahu apa isi hati mereka, ada saat mereka membutuhkan, tidak pernah marah dan selalu membela mereka apapun keadaannya. Yaa itu semua memanglah kewajiban kami, kamipun berusaha semaksimal mungkin untuk semua itu. Namun ketika kami bersikap sedikit tegas kepada mereka sontak membakar api kemarahan pada diri mereka. Sehingga terlontar kalimat-kalimat dorongan untuk berpindah dan mencari pondok baru. Entah apa yang sudah membuat mereka berubah menjadi seperti itu.

Setiap hari pikiran kami selalu terbayang dengan sikap dan omongan santri. Kami bingung harus berbuat apa, bagaimana bisa mengembalikan sikap baik santri seperti dulu lagi. Setiap apapun yang kami perbuat selalu salah dimata mereka, selalu ada saja hal yang membuat mereka mencari-cari kesalahan kami. Sehingga kami merasa seperti dimata-matai. Suasana pelajaran di kelas seperti sudah mati, tak ada komunikasi timbal balik dan hanya ada komunikasi searah, seperti sudah kehilangan rohnya. Sungguh keadaan yang sangat menyayat hati, keadaan yang sama sekali tak pernah terbayang akan terjadi pada kami.

Sudah tak bisa dibiarkan lagi, semua ini harus disudahi atau akan semakin menjadi-jadi. Kami memutar otak untuk bagaimana ini kedepannya. Awalnya kami berusaha menyelesaikan sendiri masalah ini tanpa harus membebani ustadz. Namun berjalannya waktu dengan keadaan santri yang demikian dan ustadz pun mulai merasakan kejanggalan, akhirnya ustadz turun tangan membantu kami untuk menyelesaikan masalah ini. Dan kami juga bekerja sama dengan wali santri untuk membantu memberikan nasehat-nasehat kepada putrinya.

Tibalah waktu kunjungan bagian pendidikan dari Yayasan Bina Muwahhidin Surabaya, kemudian kami para pengabdian dikumpulkan bersama beliau Ustadz Adityo dan Ustadz Nopi untuk mendapatkan ilmu dan nasehat seputar pendidikan di pondok. Banyak ilmu yang kami dapat ketika itu. Dan penyampaiannya pun sangat tenang dan jelas. Hingga sampailah di sesi tanya jawab, yang kami manfaatkan untuk bertanya tentang masalah yang kami hadapi. Alhamdulillah kami mendapatkan pencerahan untuk masalah itu. Nasehat yang masih kami ingat ketika itu adalah ambil dahulu hatinya baru kita bisa masuk di pikirannya. Kalimat sederhana yang amat bermakna. Jadi sebelum kita mendekati orangnya dekatilah dulu hatinya.

Maasyaa Allah walhamdulillah, setelah usaha yang kami lakukan bersama ustadz dan wali santri serta tak lupa mengambil hatinya, sikap anak-anak sedikit demi sedikit mulai berubah menjadi lebih baik. Anak-anak sudah mulai membaur lagi dengan kami, sudah bisa tertawa lepas bahkan sudah bercerita dan bercanda seperti sebelumnya. Anak-anak menjadi lebih semangat belajar dan menghafal, ditambah lagi semakin menghormati orang lain. Sungguh senang sekali melihat pemandangan seperti ini. Merasa tenang dan tak ada beban lagi menjalani hari-hari. Mungkin ini yang dirasakan para orang tua jika melihat anaknya tumbuh menjadi anak yang sholih dan sholihah. Dan orang yang pertama kali merasa bersalah ketika anaknya tumbuh dengan kurang baik. Merasa tak mampu mendidik atau merasa gagal.

Banyak pelajaran penting yang kami dapat dari masalah ini terutama kesabaran. Jangan mudah terbawa amarah ketika menghadapi anak-anak yang sedang dalam fase ingin diperhatikan. Ternyata sumber masalah ini cukuplah sederhana, yaa ingin diperhatikan. Apalagi mereka adalah santri yang jauh dari orangtuanya sehingga mereka membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari kami, orang yang bertanggung jawab atas mereka ketika di sini.

Ketika masa pengabdian kami nanti telah usai kemudian kami pergi pastilah akan digantikan dengan pengabdian yang baru, kami berharap semoga hal serupa tak akan terulang kembali. Dan semoga Allah selalu memberikan keistiqomahan bagi anak-anak dan para asatidzah dalam kebaikan. Sehingga pondok pesantren tercinta kita ini bisa lebih maju dan semakin baik, mencetak generasi-generasi kuat yang cinta Al Qur'an dan As Sunnah.

Penulis : Nur Dewi Hastuti

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.
Kontak kami via WhatsApp