NGV6NWVbMWV9MGJbMWV8NWp7M7csynIkynwdxn1c
Asaku

Asaku

Malam yang hening, semilir angin yang juga ikut serta dalam menghantarkan ketenangan. Seharusnya begitu tentram dan damai, tetapi tidak denganku yang sedang memutar kembali ingatanku ketika menimba ilmu. Aku yang sedang duduk sambil melihat santri-santri menyiapkan tempat untuk acara wisudaku.

Tiba-tiba “Ukhti... kok belum tidur?? jangan begadang ya!! besok kan wisuda.” Peringat salah satu santri mengingatkanku sambil berdiri di sebelahku.

Jawabku dengan singkat “Iya nih, belum bisa tidur. Syukron ya sudah diingatkan.” Aku langsung bergegas berjalan menuju kamar. Kemudian aku berbaring di kasur yang empuk, sambil melanjutkan bayangan tadi dan berbicara di dalam hati. “Disini, tempat dimana aku menimba ilmu, banyak suka dan duka yang telah ku lalui. Dari mulai masalah persahabatan, makanan, dan adaptasi dengan keadaan. Karena sangat berbeda dengan situasi di rumah yang mungkin tidak perlu dipertanyakan lagi. Ahh… sudahlah lebih baik aku tidur saja.”

Hari yang sangat bahagia. Mungkin moment seperti inilah yang dinanti-nantikan semua pelajar. “Wisuda, ya… wisuda.” Tinggal menunggu hitungan jam, aku dan teman-temanku melaksanakan wisuda. Tatkala acara sedang berlangsung, mata yang berbinar-binar bahagia terpancar di wajah teman-temanku. Namun ada juga yang wajahnya mengisyaratkan kesedihan, karena tidak lama lagi kita akan berpisah untuk menjalani masa pengabdian. Aku pernah membaca kata-kata tentang perpisahan “sebagaimana kisah yang selalu ada eksposisi hingga revolusi, maka setiap pertemuan juga akan menemukan titik perpisahan.” Masa pengabdian…yaaa menurutku tidak asing lagi di kalangan pondok pesantren. Karena pengabdian adalah salah satu kegiatan akademik yang memberikan pengalaman awal secara langsung kepada pendidik, memantapkan kompetensi akademik kependidikan dan bidang studi. Masa pengabdian ini wajib diikuti oleh semua santri yang telah menyelesaikan masa pendidikannya. Walaupun kita tidak menjadi satu tempat, tetapi aku yakin kita akan disatukan di Jannah-Nya, insyaAllah.

Alhamdulillah, aku ditempatkan di pondok ini dan beberapa temanku, tetapi ada juga yang ditugaskan di luar. Hal ini membuatku senang karena aku tidak perlu lagi beradaptasi dengan lingkungan dan kegiatan.

Terdengar salah satu temanku berbicara pelan kepadaku “kita ngga satu tempat…” sambil menahan tangis.

Lalu aku menjawab sambil memegang tanganya “gak papa.. ini sudah takdir Allah. dijalani saja. InnsyaAllah ini yang terbaik, semangat…!”

Sebenarnya sedih… tapi lebih baik berpura-pura untuk terlihat biasa saja supaya tidak menyebabkan isak tangis. Dan aku selalu meyakinkan dia dan menyemangati dia bahwa dia bisa menjalaninya.

Menurutku perpisahan untuk melanjutkan kehidupan selanjutnya, itu wajar. Karena tidak mungkin selamanya kita akan bersama terus dengan teman-teman kita. Dan kita mempunyai jalan hidup yang berbeda.

***

Pagi yang cerah, kicauan burung yang sayup-sayup terdengar ditelinga. Seolah sedang mengajakku berbicara. Masih ditempat yang sama tetapi situasi yang sedikit berbeda. Alhamdulillah aku sedang menjalani masa pengabdian yang jauh dari perkiraan. Di sini aku diberi amanah untuk membantu mengajar. Suatu amanah yang besar untuk dijaga. Sering sekali aku mendengar guru disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka yang menciptakan orang-orang hebat di setiap generasinya. Seorang guru mendidik muridnya tanpa kenal lelah, meski terkadang hal tersebut terasa sangat berat.

Awal menjadi seorang pendidik tidak mudah ku lewati begitu saja. Gugup, mati gaya, mati bahasa, sudah ku alami. Dan itu wajar karena baru pengalaman pertamaku menjadi seorang pendidik. Waktu itu aku dan temanku dipanggil oleh ustadz, kami membicarakan tentang: perkembangan santri, kendala-kendala dalam peraturan dan lain sebagainya.

Di tengah pembicaraan kami ustadz bertanya, “keluhan apa yang kalian alami selama kalian mengajar?”.

Temanku menjawab, “Alhamdulillah tidak ada ustadz, mungkin pas di awal itu hanya grogi saja”.

Dan akupun menjawab, “Rasanya masih kurang percaya diri ustadz, karena banyak santri yang menurutku lebih pintar daripada saya”, sambil menundukkan kepala dan merasa sedih karena belum bisa menjadi yang lebih baik.

Ustadz pun menyanggah perkataanku “InnsyaAllah bisa, temukan metode pembelajaran yang tepat dan nyaman. Jangan paksakan dirimu menjadi orang lain, tetapi sesuai dengan kemampuan dirimu.”

Dalam hati aku berbicara “Bissmillah... ayo bangkit!! kamu pasti bisa kok. Orang lain aja percaya kamu bisa, kenapa kamu meragukan dirimu sendiri?”.

Alhamdulillah seiring berjalannya waktu, aku bisa melaluinya. Menikmatinya dengan senang hati. Rutinitas yang aku lakukan sebelum mengajar adalah belajar tentang materi yang akan disampaikan dan mempersiapkan beberapa hal yang berhubungan dengan materi tersebut. Phil Collins mengatakan “Dalam belajar, kamu akan mengajar. Dan dalam mengajar, kamu akan belajar.”

Dalam menyampaikan materi sangat dibutuhkan yang namanya percaya diri, yang dimana tak hanya dari sisi akademik saja. Karena guru juga mempunyai tanggungjawab untuk memberikan contoh sikap dan perilaku yang baik. Terkadang murid akan meniru bagaimana guru itu berperilaku. Maka dari itu pentingnya kita sebagai seorang pendidik harus menjaga attitude dan wibawa, karena attitude lebih penting daripada kapabilitas.

“Ternyata menjadi seorang guru tidaklah hal yang mudah ya?” ujarku kepada temanku.

Dan dia menjawab “Iya, betul sekali. Dulu pas jadi santri mikirnya enak ya, jadi guru tinggal menjelaskan, ngasih tugas, selesai deh…” sambil tertawa kecil.

“Ohh..., ternyata nggak hanya aku aja ya yang mikir seperti itu, hmm... tapi ya bagaimana lagi, sudah takdir-Nya”.

Lalu temanku berkata “Iya… jalani saja! harus bersyukur, nikmati prosesnya, dan ikuti alurnya. Mengeluh boleh, tapi jangan sampai menyerah. ingat!!! masih ada tempat sujud untuk kita beristirahat”.

Aku pun salut dan terharu mendengar perkataan temanku “MaasyaAllah… terima kasih atas nasehatnya”.

Selain menjadi seorang pendidik aku juga mendapat amanah menjaga minimarket pondok. Dan di minimarket aku memiliki 2 partner, yaitu; Aisyah dan Lina , alhamdulillah mereka semua super cekatan dalam pekerjaan. Kami selalu berbagi tugas dan membagi shift menjaga minimarket.

Awalnya aku kaget dikasih amanah menjaga minimarket, karena sebelumnya tidak pernah memegang bagian maqshof atau kantin. Jadi belum ada pengalaman dibagian itu. Sama halnya seperti 2 partnerku ini, mereka juga belum ada pengalaman di bidang minimarket. Maka dari itu kami selalu belajar untuk kompak dan menghargai pendapat. Kita selalu mengerjakan pekerjaan secara tim atau bersama, misalnya; menata barang, meng-audit barang di akhir bulan, membagi beras, dan lain sebagainya. Karena kalau bekerja sendiri, pastinya akan mengalami kelelahan, tidak dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik, lama selesainya, dan hal tersebut juga dinilai tidak menghargai partnernya. Sehingga akan menimbulkan hubungan yang kurang baik dalam kerja.

***

Malam yang sejuk, lantunan al-Qur’an yang terdengar merdu dari masjid, membuatku ingin kembali menikmati masa menjadi santri. Waktu malam itu, aku, Aisyah dan Lina ada acara rapat minimarket, lucunya kita semua tidak tahu apa yang harus dibicarakan. Rapat waktu itu dibimbing ustadz dan ustadzah yang memegang bagian minimarket.

“Aduh, nggak tau harus ngomong apa nanti yaaa”, ujarku kepada Aisyah sambil panik.

Aisyah menjawab, “iya nih, nggak tau juga”.

Lina dengan tiba-tiba juga menjawab, “iya, bingung…”. Kita pun tertawa kecil.

Kemudian rapatpun berlangsung dengan tenang, ternyata tidak menegangkan seperti apa yang aku bayangkan. Di akhir rapat ustadz berkata “Ustadzah minta tolong nanti di akhir bulan ada audit barang”

Dengan spontan aku menjawab “Hah??? Audit? Audit itu apa ustadz?”

Lalu ustadz menjelaskan “Adanya audit itu untuk memeriksa laporan keuangan, jadi nanti terlihat laba dan rugi disitu, jadi nanti tolong ditulis dan dihitung harga asli dan harga jual”.

Jawabku “Na’am ustadz” padahal disitu aku belum tahu bagaimana caranya mengaudit, ditambah menghitung harga asli. Hal tersebut membuatku sedih karena tidak ada contoh meng-audit itu seperti apa. Namun aku mengerjakannya sebisaku. Sampai akhirnya Aisyah dan Lina juga harus bisa bagaimana cara mengaudit supaya jika salah satu dari kita izin masih ada yang bisa mengerjakan hal tersebut. Aku berpikir, ustadz minta tolong hal seperti itu karena beliau mau kita belajar dan mencari tau. Seiring berjalannya waktu ternyata aku sudah nyaman di minimarket dan bahkan sudah terbiasa dengan pekerjaannya. Disini banyak sekali pelajaran yang aku dapatkan, dari cara mengelola keuangan, menghargai pendapat teman, dan bekerjasama dengan tim.

Tak terasa masa pengabdianku hampir selesai, dan aku telah menikmatinya sebagai pengajar dan menjaga minimarket. Kalau hanya dibayangkan memanglah susah dan berat untuk dijalani, namun Alhamdulillah atas izin Allah subhanahu wa ta’ala semua terasa mudah dijalani. Jika waktu diputar kembali, hal yang terberat aku jalani adalah ketika aku sudah menikmati dan merasa nyaman dengan masa pengabdian, tetapi ada salah satu faktor yang membuatku hampir keluar dan menunda masa pengabdian. Aku yakin semua itu ada hikmahnya dan Allah subhanahu wa ta’ala memberikan cobaan sesuai dengan kemampuan hamba-Nya, seperti firman Allah:

{لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا}

Artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS. Al-Baqarah: 286).

Hidup di pondok ini lebih dari 3 tahun. Tumbuh dan belajar banyak hal, membuat dan menyimpan kenangan, menangis dan tertawa, sedih dan bahagia.

Tempat ini terlalu menyimpan banyak cerita bagaimana aku mencari jati diri, memulai segala mimpi dan segala cerita yang tak pernah bersuara. Mungkin orang lain mempunyai segalanya yang belum tentu aku punya dan aku belajar banyak hal yang mungkin tidak dipelajari oleh orang lain.

Dari sini aku menyimpulkan bahwa hidup bukan parade kehebatan, melainkan proses untuk mengoptimalkan kemampuan ketika dibutuhkan, dengan tujuan tercapainya suatu kemanfaatan. Maka dari itu kita harus belajar dari siapa aja, kapan aja, dan dimana aja. Dan terkadang dibalik kata “Wah, enak ya jadi kamu” itu tersimpan ketidaktahuan mereka, betapa banyak ujian yang ku alami. Aku hanya bisa bersyukur, sedangkan mereka pandai mengukur. Sebab mereka terlalu jauh memandang sebuah kebahagiaan dengan apa yang aku capai, pada apa yang aku dapatkan. Padahal bahagia itu dekat, ada di dalam dada, di dalam hati orang-orang yang bersyukur.

Cerita ini selesai ditulis tanggal 2 juni 2022. Diakhiri dengan bahagia versi saya dengan judul “Asaku”. Seperti yang sudah aku tulis, tidak ada kesedihan yang selamanya, dan setiap kesusahan pasti ada kemudahan. Cepat atau lambat perasaan itu akan membaik perlahan.

Cerita ini aku buat untuk mengajak teman-teman merasakan fase-fase itu yang dimana semuanya terasa baik-baik saja tanpa kita tahu keadaan bisa saja berubah drastis tanpa kita duga.

Penulis : Vina Dwi Agustin

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.
Kontak kami via WhatsApp