NGV6NWVbMWV9MGJbMWV8NWp7M7csynIkynwdxn1c
Pengalaman di Pulau Seberang

Pengalaman di Pulau Seberang

Nama saya Yupita Sandra Leka, saya berasal dari pelosok desa tepatnya di daerah Sumatera Selatan. Terlahir dari keluarga yang kurang paham agama menjadi salah satu motivasi saya untuk mendalami ilmu agama.

Perjalanan dimulai, berjalan dari barat ke timur lalu ke timur lagi, kemudian ke selatan lalu ke utara, hidup saya kala itu seperti kereta yang selalu berjalan tanpa henti.

Kala itu saya duduk di bangku tiga SMA dan sebentar lagi akan menyelesaikan pendidikan di jenjang SMA. Pada saat itu teman-teman saya yang ada di kelas sudah sibuk membuat planing, atau memikirkan universitas yang sesuai untuk mereka melanjutkan pendidikan kelak selepas lulus dari SMA. Ada yang ingin daftar jadi polisi, ada juga yang ingin kerja saja.

Kemudian saya bingung kemana saya harus melanjutkan pendidikan selepas lulus dari SMA nanti. Di pikiran ini rasanya saya ingin kerja saja, mengingat keluarga yang hidup sederhana mungkin nanti bisa membantu keluarga. Namun di samping itu hati ini ingin sekali lanjut ke sebuah universitas atau pondok pesantren yang ada di pulau Jawa. Kemudian saya mulai bertanya kepada guru dan teman-teman mengenai universitas atau pondok pesantren yang mana biayanya standar serta sangat menekankan pelajaran agama.

Tidak lupa saya selalu berdoa kepada Allah Ta’ala untuk dimudahkan segala urusan, serta diberikan pilihan yang terbaik. Dan alhamdulillah, kakak kala itu mendapatkan informasi tentang pondok pesantren yang sesuai dari segi biaya dan dari segi pendidikan untuk saya.

Demi sebuah perjuangan untuk menuju kesuksesan dunia akhirat, selangkah demi selangkah saya lalui, hingga akhirnya Allah berikan tempat yang terbaik in sya Allah, jadi saya melanjutkan pendidikan di sebuah pondok pesantren tepatnya di Ar-Rasyid yang ada di wilayah Wonogiri, Jawa Tengah. Yang mana pondok tersebut berada ditempat yang masih sangat terjaga dari polusi udara, serta jauh dari kebisingan.

Pada tanggal 20 Juni 2018, dimulai perjalanan saya di pondok pesantren Ar-Rasyid, kala itu saya tidak punya bekal sama sekali, ilmu agama masih jauh dari kata standar. Bahasa Arab yang saya hafal hanya ana dan anti, itu pun sering kebalik penggunaannya, laki-laki saya panggil anti dan sebaliknya, pokoknya saat itu saya sangat memperhatinkan. Karena semangat mengalahkan kemampuan membuat saya terus meyakinkan diri sendiri, bahwa tidak ada yang tidak mungkin selagi kita berusaha.

Malam itu langit berwarna biru dikelilingi oleh bintang-bintang, dan bulan yang bersinar menambah kenyamanan bersamaan dengan angin malam yang membuat kulit ini merasa dingin. Kala itu saya, kakak, dan istrinya tiba di pondok pesantren Ar-Rasyid. Suasana yang saya rasakan setiba di pondok adalah bahagia, akhirnya salah satu keinginan saya terwujud yaitu belajar di pesantren dan dapat menimba ilmu agama.

Setibanya di asrama, saya bertemu dengan orang-orang baru atau teman-teman baru. Ada yang dari Boyolali, Jakarta bahkan Lombok. Singkat cerita akhirnya saya dan teman-teman selesai melaksanakan Orentasi Mahasantriwati dan kegiatan belajar mengajar dimulai.

Pagi yang cerah disertai dengan angin yang menyejukkan, pagi itu di pondok pesantren terdengar suara saya dan teman-teman membaca Al-Quran ba`da sholat Shubuh. Kita saling setor hafalan baru, ada juga yang muraja’ah hafalan lama. Kalau saya sendiri setoran hafalan baru, karena basic saya bukan dari pesantren. Adapun bacaan Al-Qur'an saya kala itu bisa dibilang sangat memperhatinkan. Namun alhamdulillah, seiring berjalannya waktu mulai ada perubahan, bacaan saya mulai membaik.

Bel berbunyi tanda belajar mengajar akan segera dimulai, saya pun duduk di bangku paling depan, setelah semuanya sudah kumpul di dalam kelas tiba-tiba ustadz mengetuk pintu kelas dan mengucapkan salam, "Assalamu’alaikum!" Sontak kami menjawab secara bersamaan, "wa’alaikumus salam".

Kemudian ustadz duduk dan mulai memperkenalkan diri, "perkenalkan nama saya ustadz Irsun, saya dari Ternate", ucap ustadz. Kemudian ustadz mempersilahkan kami untuk memperkenalkan diri masing-masing serta daerah asal. Setelah memperkenalkan diri kami pun mulai belajar, pengalaman yang saya rasakan ketika belajar pertama kali adalah takjub atau kagum. Namun disertai dengan rasa bingung, takjub dengan ustadz yang fasih dalam berbahasa Arab, akan tetapi bingung karena tidak paham dengan yang diucapkan oleh ustadz. Namun itu tidak mematahkan semangat saya untuk terus belajar, karena saya tahu batu yang keras saja bisa berlobang karena tetesan air yang senantiasa meneteskan air di atasnya, apa lagi otak manusia yang diciptakan oleh Allah dengan sempurna, jika kita senantiasa belajar dan belajar kelak pasti kita akan menemukan manisnya ilmu tersebut.

Waktu terus berjalan satu detik yang lalu adalah masa lalu dan tidak akan pernah bisa kembali. Tiba hari Ahad, yang mana hari yang ditunggu-tunggu oleh semua santri, karena hari itu handphone dibagikan. Kala itu ada yang asyik menelepon orang tuanya, ngedit foto, bahkan ada yang nonton untuk sekedar melepas penat belajar selama sepekan kemarin.

Saya juga mengambil handphone untuk menghubungi keluarga yang ada di kampung. Kala itu handphone saya hanya bisa menelepon dan sms saja, atau bisa disebut handphone jadul bukan Android, karena qodarullah sebelum berangkat ke pondok handphone saya rusak, namun itu salah satu rencana Allah Ta’ala. Ketika orang-orang lagi sibuk main handphone sampai waktu sore, saya hanya menggunakan handphone dari jam 7.00 - 8:30. Sisa waktunya untuk belajar atau muraja’ah pelajaran kemarin. Ini berlangsung sampai satu tahun, atau dari aku semester satu sampai semester dua. Alhamdulillah lewat wasilah itu, saya bisa belajar lebih giat lagi dan lebih bisa memanfaatkan waktu dengan baik.

Waktu terus bergulir, hari demi hari berlalu tanpa terasa, akhirnya tiba di penghujung kelulusan, yaitu semester enam. Pada semester ini saya dan teman-teman mulai belajar menulis bahs atau sekripsi, dan ketika itu saya dan keempat teman lainnya dibimbing oleh ustadz Joko, yang mana skripsi itu bertemakan, Hukum dan Macam-macam Talaq dalam Islam.

Saya dan teman-teman sering mengunjungi perpustakaan guna mencari materi untuk sekripsi, sehalaman, dua halaman mulai memenuhi lembaran kami. Suara ketikan laptop saling beradu dan malam yang mulai membuat mata kami mengantuk, kami obati dengan sesekali bertukar cerita.

Pagi itu seperti biasa, saya dan teman-teman mengumpulkan hasil sekipsi, kepada ustadz pembimbing masing-masing supaya segera dikoreksi. Tinta merah mulai memenuhi sekripsi kami. Koreksi beserta saran diberikan ustadz pembimbing kepada kami, guna memperbaiki sekripsi agar lebih baik lagi. Belajar dari kesalahan, kami mulai memperbaiki sekripsi tersebut, mulai dari penempatan titik, koma bahkan penggunaan nomor untuk halaman.

Dari hari Senin ke Senin lagi, dari malam ke malam lagi, kami masih sibuk bergelut dengan sekripsi masing-masing, dan pada akhirnya kami pun selesai dan tiba ujian sekripsi bersama pembimbing masing-masing.

Pagi itu saya dan salah satu teman mengetuk pintu rumah ustadz Joko, "Assalamu’alaikum ustadz?". Hening belum ada jawaban, "Ya sudah ketuk lagi saja mungkin ustadz belum dengar." ucapku kepada temanku, "oke assalamu’alaikum ustad Joko”. Teriak temanku dengan suara yang memenuhi depan rumah ustad. "Krikkkkkk..... Suara pintu dibuka, "Wa’alaikums salam ujian sekripsi ya?, Ya sudah, kalian semua ke kelas sekarang, nanti saya ke sana, ucap ustadz sembari menutup pintu kembali.

Sontak kami menjawab, "iya ustadz". 1 detik, 2 menit, 15 menit akhirnya ustadz masuk ke kelas, jantung saya kala itu seperti ingin kabur dari tempatnya saking gugupnya. Keringat dingin mulai bercucuran, tanpa terasa pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan ustadz kepada saya dan alhamdulillah setelah sekitar 30 menit ujian sekripsi pun selesai. Jantung saya yang awalnya gugup mulai berdetak normal kembali dan mulai tersenyum bahagia, "Alhamdulillah ya Allah selesai juga ujian sekripsinya”. Ucapku sembari menengadahkan tangan ke langit.

Tepat pada tanggal 26 Juni 2021. Saya dan ketiga belas teman lainnya melaksanakan wisuda, ada rasa bahagia, sedih bahkan terharu pada hari itu, meningat semua perjuangan selama tiga tahun ini. Namun ini bukan akhir melainkan awal dari sebuah tanggung jawab yang besar untuk kami semua.

Pagi itu kami di panggil oleh ustadz Nopi Indrianto selaku mudir (kepada sekolah) Ma'had Aly dan ustadz Yani selalu mudir (kepala sekolah) SMP, kami diberi nasehat serta diberi tahu dimana tempat pengabdian kami setelah ini.

Saya dan keempat teman lainnya mengabdi di SMP putri yang ada di pondok Ar-Rasyid dan yang lainnya ada yang mengabdi di bagian Ma'had Aly, bahkan ada yang ke luar pondok atau ke pondok yang lain. Masa pengabdian adalah salah satu cara pendewasaan diri, meluaskan rasa kesabaran serta salah satu cara melatih jiwa tanggung jawab.

Terik sinar matahari siang itu sangat menyengat, bahkan hembusan angin yang menelisik di dedaunan tidak terasa. Siang itu, kira-kira tanggal 8 Juli 2021 merupakan hari yang berkesan, sebab hari itu adalah hari pertama kami terjun langsung menjadi pengabdian. Di sela kesibukanku kala itu terdengar suara lirih dari belakang, "ustadzah sedang apa?" tanya salah seorang santri yang dari tadi memperhatikanku.

Sontak saya menoleh "ustdzah..?” ucap saya dengan nada penuh pertanyaan, "Oh saya lagi baca buku Sirah ini, kenapa mau baca juga?” tanyaku. "Tidak ustdzah", jawab santri itu. Saya terkejut dengan panggilan ustadzah. Bukan tanpa sebab, karena sebelumnya para santri memanggil saya dengan sebutan ukhty, kemudian setelah masa pengabdian panggilan yang awalnya ukhty diganti dengan ustadzah.

Hari terus mengajak untuk menambah pengalaman seakan ia enggan memberikan waktu untuk bersantai. Triiing..., suara handphone berbunyi, ku raih handphone, serta ibu jari langsung menekan aplikasi yang berwarna hijau, yaitu WhatsApp. "Ayo ustadzah kita kumpul dulu, untuk menentukan kelompok halaqoh Qur`an", tulis salah satu temanku di grub WhatsApp. "Siap", balas kami di WhatsApp.

Halaqoh Qur`an adalah kegiatan yang membuat kita selalu dekat dengan Al-Qur'an, dekat dengan Rahmat Allah Ta’ala, dan dengan dekat dengan Al-Qur'an akan membuat hidup kita senantiasa tenang dan tenteram .

Tring....tring...tring..., suara alarm berbunyi tepat pukul 3:00. Saatnya membangunkan para santri untuk sholat tahajud, mereka bermacam-macam ketika hendak dibangunkan, ada yang langsung bangun dan ada juga yang harus dibangunkan berkali-kali, mungkin karena mereka belum terbiasa saja. Selepas shalat para santri ada yang tidur sembari menunggu waktu azan Shubuh, ada pula yang menghafal atau muraja’ah Al-Qur'an sembari menunggu azan Shubuh.

Suara bacaan Al-Qur'an pagi itu menggema memenuhi masjid, disertai dengan angin yang berhembus dari jendela-jendela masjid. Saya melihat satu-satu para santri yang ada di halaqoh Al-Qur'anku pagi itu. Ada yang cepat dalam menghafal, ada pula yang cukup lama menguras waktu untuk hanya menghafal satu ayat. "Ma sya Allah semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan pahala untuk di setiap perjuangan kita", doaku dalam hati kala itu.

Waktu menunjukkan jam 6:30 pertanda halaqoh Al-Qur'an sudah selesai, para santri pun langsung bersalaman dan bersiap-siap untuk piket kebersihan, serta bersiap-siap untuk masuk ke kelas untuk belajar. Saya juga bersiap-siap, karena saya akan mengajar di Ma'had Aly pelajaran fiqih kala itu, dan hari itu pula hari pertama kali saya mengajar.

Mengajar ilmu yang sudah kita dapatkan adalah salah satu investasi akhirat yang tidak akan pernah terputus walaupun kelak kita sudah tiada. Karena semua perjalanan serta pengalaman hidup kita akan berhenti pada suatu titik yang bernama kematian. “Seluruh yang kita usahakan terhenti, tidak lagi mengalirkan pahala bagi kita kecuali tiga perkara, yakni sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak-anak yang shalih yang senantiasa mendoakan. Dan semoga ilmu yang kita ajarkan akan menjadi salah satu amal jariyah bagi kita”, tulisanku di sebuah buku untuk memotivasi diri sendiri agar senantiasa ikhlas dalam mengajarkan ilmu yang saya dapatkan.

"Tolong anti, ya.. fulan baca halaman 12", ucap ku kepada salah seorang mahasantriwati yang sangat pendiam di kelas. "Iya ustadzah", jawabnya dengan suara yang hampir tidak bisa ku dengar. Memang seharusnya mahasantriwati yang pendiam harus sering disuruh membaca atau tampil di depan mahasantriwati yang lain supaya dia lebih percaya diri lagi.

Tidak terasa waktu 60 menit sudah berlalu pertanda waktu mengajar telah berakhir, "Baiklah mahasantriwati karena waktunya sudah habis, in sya Allah dilanjutkan di pertemuan yang akan datang.” ucapku kepada mahasantriwati.

Kakiku terus melangkah membelah jalanan yang dikelilingi oleh pohon talok. Hatiku berbisik, "Ternyata memahamkan orang lain itu tidak semudah yang ku bayangkan selama ini”. Kemudian saya teringat sebuah hadits riwayat Imam Al-Baihaqi dalam Manaqib Asy-Syafi'i, Imam Al-Ajuri dalam kitabnya Akhlakul Ulama, berkata "Maka seorang guru harus ekstra sabar pada muridnya yang sulit paham. Jangan kasar dan menghinanya, sehingga membuat dia malu untuk belajar. Karena Anda tidak tahu, diantara murid-murid itu yang nanti menjadi murid paling berguna bagimu.

Lembaran mulai mengering dan tinta mulai diangkat, buku-buku yang rapi berjejer di atas rak, tanganku meraih buku Tauhid. Kebetulan kala itu saya mengajar pelajaran Tauhid dari kelas satu sampai dengan kelas tiga. Dan besok saya ada mengajar Tauhid di kelas satu. Supaya lebih paham isi materi, saya baca terlebih dahulu. Kubaca halaman demi halaman buku itu. Saya pun menemukan ilmu-ilmu baru yang belum aku ketahui, memang mengajar itu tidak semudah yang dibayangkan namun di balik semua itu, mengajar juga dapat memberikan pengajaran kepada kita secara tidak langsung.

"Allahu Akbar, Allahu Akbar ...", Suara adzan mulai berkumandang tepat pukul 12:10, pertanda sudah masuk waktu Zhuhur. Suara para santri mulai terdengar dari kejauhan, mereka bersiap-siap pulang ke asrama, kemudian pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat Zhuhur berjama’ah. Selepas shalat, mereka akan melakukan kegiatan yang lain, yaitu hafalan hadits 100, kira-kira sampai pukul 13:00 WIB.

Menghafal hadits adalah salah satu pertanda cinta kita kepada Rasulullah, sebab dengan menghafal hadis berarti kita ikut serta menjaga sunnah-sunnah Rasulullah. Karena di dalam hadits banyak yang menjelaskan tentang kebiasaan yang di lakukan oleh Rasulullah.

Suara kaki santri mulai terdengar memasuki asrama. "Assalamualaikum", ucap santri sebelum masuk asrama, "waalaikumus salam", jawabku. Kemudian mereka mengambil piring masing-masing yang ada di atas meja yang disediakan di asrama, "Ayo makan, ayo makan!" ajak para santri kepada santri yang lain, memang kebiasaan santri selepas hafalan hadits mereka akan bersama-sama pergi ke ruang makan untuk makan siang.

Suara jangkrik mulai terdengar, kira-kira 10 menit sebelum adzan Maghrib berkumandang, para santri biasanya sudah bersiap-siap dengan pakaian bersih, dan rapi serta membawa Al-Qur'an, siap untuk berangkat ke masjid, untuk melaksanakan shalat Maghrib secara berjamaah. Ma sya Allah susana yang membuat hidup terasa tentram.

Ba’da shalat, saya dan para santri halaqoh, belajar mengakrabi Al-Qur'an sampai waktu shalat Isya tiba. Sehabis shalat Isya kami berkumpul di masjid untuk melaksanakan talaqqi secara bersama-sama. Banyak yang saya pelajari di sini, belajar sabar, belajar ikhlas. Iya belajar sabar mengajari santri yang masih kurang dalam membaca Al-Qur'an, serta belajar ikhlas agar ilmu yang diajarkan mendapatkan pahala dari Allah Ta’ala.

Waktu terus berjalan tanpa terasa, dan hari Ahad pun tiba, hari ini para santri boleh menelepon orang tuanya untuk sekedar menanyakan kabar atau pun bercerita mengenai pengalaman di pondok. Saya pun mendengar suara tangisan dari dekat jendela, saya pun sedikit membuka jendela untuk melihat siapa yang menangis, ternyata ada santri yang tidak ditelepon oleh orang tuanya, mungkin karena orang tuanya sedang sibuk, jadi belum sempat untuk menelepon.

Aku dekati santri itu dengan perlahan, dan mulai mengajaknya untuk berbicara, "kenapa sedih ?”. Tanyaku, santri itu pun mulai menghapus air matanya dan berkata dengan suara yang gemetar, "Ummi dan Abi belum menelepon ustdzah", jawabnya. "Oh mungkin Ummi dan Abi lagi sibuk, jadi belum bisa menelepon, mungkin Ahad depan", ucapku sembari sedikit menepuk pundaknya dan berusaha membujuknya supaya tidak menangis lagi.

Memang seorang pendidik adalah orang tua kedua bagi para santri setelah orang tua mereka di rumah. Seorang pendidik harus senantiasa ada untuk mereka, untuk memberi semangat serta memberi nasehat kepada santri, dan seorang pendidik juga harus bisa menjadi teman sekaligus guru bagi mereka.

Tidak terasa hampir setahun penuh saya bergelut dengan dunia yang baru, yaitu masa pengabdian, tiba dimana sebuah perpisahan diambang pintu. Karena setiap pertemuan pasti ada perpisahan dan setiap awal pasti ada akhirnya. Pengalaman demi pengalaman telah tertulis dengan jelas di ingatan. Dan harapan saya semoga pengalaman ini bisa menjadi bekal untuk saya di kemudian hari.

Tidak banyak yang bisa ku tulis di sini, namun yang ku harapkan semua yang pernah diajarkan oleh ustadz dan ustadzah, serta nasehat dan motivasi semoga bermanfaat bagi diriku, serta para ustadz dan ustadzah mendapatkan pahala dari Allah Ta’ala.

Dan harapan saya, semoga pondok pesantren Ar-Rasyid akan terus selalu maju dan berkembang serta mengeluarkan lulusan yang baik dari segi pemahaman dan baik dari segi akhlak, serta dapat bermanfaat bagi masyarakat di kemudian hari.

Penulis : Yupita Sandra Leka

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.
Kontak kami via WhatsApp