NGV6NWVbMWV9MGJbMWV8NWp7M7csynIkynwdxn1c
Jejak

Jejak

Allah sudah menjelaskan proses penciptaan manusia dalam Al-Qur’an dengan sangat rinci dan jelas. Allah juga menerangkan bahwasannya manusia adalah sebaik-baik ciptaan dan Dia menghendaki manusia untuk membuat keputusan atau pilihan dalam perkara-perkara yang dikehendakiNya. Tidak lupa juga bahwasanya disetiap keputusan atau pilihan yang dibuat manusia pasti ada akibat yang menyertainya, entah akibat baik ataupun akibat buruk. Begitu pula dengan memilih antara masuk perguruan tinggi atau meneruskan pendidikan ke pondok pesantren. Setelah beberapa waktu dihabiskan untuk berdiskusi dan berdo’a, keputusan pun diambil.


Setelah kurang lebih 3 tahun menjalani kehidupan dipondok pesantren setingkat mahasiswa, dengan berbagai macam masalah setiap harinya, akhirnya kamipun lulus dengan syarat melakukan pengabdian selama kurang lebih satu tahun ditempat yang telah ditentukan.

Singkat cerita, dengan banyak negoisasi dengan pihak pondok pesantren, tempat pengabdianku pun berubah. Pertama kali mendengar Pesantren Hidayatullah Sukoharjo tersebut, aku pikir semua pesantren Hidayatullah di Indonesia sama. Ternyata tidak.

TMQ (Tarbiyatul Muhafidzatul Qur’an) Rooihatul Jannah atau lebih dikenal dengan singkatan pondok ROJA itu lebih berfokus kepada program hafalan santri santrinya. Dengan capaian hafalan minimal ketika lulus SMA adalah 20 juz. Tapi juga tidak sedikit yang sudah menyelesaikan hafalan mereka. Pondok ROJA ini bisa dikatakan pondok yang unik dan kreatif. Selaras juga dengan slogan mereka yakni “ Siapapun berhak jadi apapun dalam bingkai Al-Qur’an”. Dikatakan unik dan kreatif kenapa? Karena dalam lingkungannya, pondok ROJA membuat santrinya turun tangan untuk menghias tembok tembok dengan karya kreatif mereka. Normalnya, pihak pondok pesantren akan melarang santrinya, jika ada diantara mereka yang merusak keindahan lingkungan pondok. Singkatnya, semua pondok pesantren mempunyai kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Begitu juga pondok ROJA.

Sistem menghafal Al-Qur’an dipondok ROJA menerapkan sistem tahsin untuk santri barunya. Jadi dalam sistem ini, semua santri baru dikumpulkan dan dilakukan tes baca Al-Qu’ran. Setelah diketahui hasil bacaannya, santri baru dikelompokkan menjadi beberapa kelompok sesuai dengan kemampuan bacaan Al-Qur’an mereka. Ada diantara mereka yang langsung masuk dalam halaqoh halaqoh tahfidz bersama santri yang lain, ada juga yang butuh waktu satu semester untuk membenahi bacaan Al-Qur’annya.

Halaqoh tahfidz di pondok ROJA dibagi menjadi dua waktu yaitu pagi dan sore, untuk halaqoh pagi santri diwajibkan menyetorkan hafalan ziyadah (tambahan) minimal satu halaman dan untuk halaqoh sore hari, santri diwajibkan menyetorkan hafalan muroja’ah setengah juz. Dengan program yang telah dibuat ini, masih banyak santri yang belum bisa memenuhi target. Mengapa? Karena dalam kesehariannya, mereka tidak mematuhi program atau aturan halaqoh yang telah dibuat, seperti tidak menyetorkan hafalan sesuai dengan target ziyadah dan muroja’ah per harinya.

Dalam satu halaqoh, satu Ustadzah mengampu 8-10 santri. Dengan waktu kurang lebih satu seperempat jam tiap halaqohnya. Jika dengan waktu yang telah ditentukan tersebut masih ada santri yang belum maju menyetorkan hafalannya, maka santri boleh menyetor diluar jam halaqoh atau sesuai dengan kesepakan dengan ustadzah pengampunya.

Dalam kesehariannya, untuk mendukung program tahfidz ini, bagian kesantrian menjadwalkan kegiatan menghafal Al-Qur’an pada siang hari (ba’da shalat dhuhur) dan malam hari (ba’da shalat isya’). Karena pondok ROJA ini berfokus pada menghafal Al-Qur’an maka kegiatan belajar malam, yang biasanya ada pada mayoritas pondok pesantren, tidak dijadwalkan.

Selain kegiatan menghafal Al-Qur’an, pondok ROJA juga menjadwalkan kegiatan belajar mengajar untuk pelajaran akademik dan diniyyah (agama). Waktu yang digunakan untuk KBM adalah mulai pukul delapan pagi sampai pukul dua belas siang. Satu jam pelajaran berdurasi kurang lebih empat puluh menit. Untuk pelajaran akademik seperti Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan lainnya, biasanya mendapat dua jam pelajar seklaigus dalam satu hari, sedangkan untuk pelajaran diniyyah seperti Hadits, Siroh Nabawi dan Nahwu mendapat masing masing satu jam pelajaran setiap minggunya. Normalnya, kegiatan belajar mengajar disekolah pada umumnya adalah hari Senin-Sabtu, tapi di pondok ROJA ada dua hari libur untuk tiap pekannya, yaitu hari Jum’at dan Ahad. Jadi dalam satu pekan tersebut hanya lima hari belajar. Karena waktu yang diberikan tidak terlalu banyak, maka seluruh asatidzah di pondok ROJA haru memadatkan materi materi yang akan disampaikan sesuai dengan RPP dan silabus yang sudah dibuat.

Bagian kurikulum pondok ROJA membuat kegiatan belajar mengajar hanya lima hari karena hari Jum’at para santri dijadwalkan untuk kegiatan bersih-bersih akbar. Kegiatan ini mewajibkan seluruh santri untuk turun tangan membersihkan seluruh area pondok pesantren, mulai dari halaman, masjid hingga kamar mandi dan jemuran. Biasanya sebelum kegiatan bersih-bersih dimulai, para santri diwajibkan untuk mengikuti senam terlebih dahulu. Setelah itu, bagian kebersihan akan membagi piket sesuai dengan kelompok masing-masing. Dan kegiatan ini akan selesai sekitar pukul sembilan pagi. Setelah itu santri diperbolehkan untuk istirahat.

Dalam perjalanannya selama kurang lebih enam tahun ini, pondok ROJA sedah mengalami banyak perkembangan yang luar biasa. Mulai dari bangunan yang awalnya hanya masjid dan dua asrama serta kelas yang belum memadai. Sekarang pondok ROJA sudah memiki sebelas kamar untuk santri dan dua kamar untuk ustadzah serta tujuh ruang kelas. Masih ada satu kelas yang masih melakukan KBM di masjid dikarenakan ruang kelasnya belum ada. Walaupun belum sempurna seperti pondok pesantren lainnya, pondok ROJA sudah lebih dari cukup untuk sebuah tempat untuk para santri menghafal dan belajar.

Tiap tahunnya pondok ROJA masih berusaha mencari sistem pembelajaran yang sesuai dengan para santri. Sistem pembelajaran yang digunakan saat ini dirasa masih kurang untuk perkembangan dan kemajuan santri santri di pondok ROJA.

Karena liburan akhir semester dan lebaran tahun ini berbeda. Maka, ketika perpulangan lebaran tiba bagian kesantrian dan tahfidz bekerja sama memberi tugas rumah agar saat dirumah, santri tetap terkontrol dalam hafalannya. Jadi setiap santri wajib membawa mutaba’ah yaumiyah yang wajib diisi setiap harinya selama liburan dan lembar kontrol penggunaan handphone yang wajib diisi oleh wali santri.

Dengan adanya mutaba’ah tersebut wali kamar dan bagian kesantrian bisa dengan mudah mengontrol kegiatan santri ketika dirumah dan ketika libur lebaran telah usai mutaba’ah tersebut wajib dikumpulkan ke wali kamar masing masing, jika ada diantara mereka yang tidak membawa atau tidak mengisi dengan lengkap maka ada konsekuensi yang harus diterima.

Desain pondok ROJA yang tertutup, membuat kemungkinan kecil untuk laki laki masuk secara illegal. Oleh karena itu, para santri bisa bebas berkegiatan tanpa menggunakan gamis dan kaos kaki. Dan juga belum ada ketentuan pakaian syar’i dalam pondok ROJA. Para santri hanya dibatasi membawa pakaian dengan jumlah tertentu. Banyak santri yang masih memakai kerudung diatas siku dalam berkegiatan diluar. Karena hal tersebut membuat rishi, untuk kelas atas seperti kelas 4,5 dan 6 ketika pelajaranku, diselang selang pembelajaran aku memberi nasehat dan masukan agar mulai membiasakan mememakai kerudung panjang dan besar, minimal dibawah siku. Dan terbukti ketika pembelajarn selanjutnya, banyak diantara mereka yang sudah memanjangkan kerudungnya. Setidaknya ketika dikelas mereka sudah memulai, untuk kegiatan kesehariannya, banyak diantara mereka yang harus rutin diperingatkan.

Mungkin menurut sebagian orang, berpakaian itu bukan apa-apa, hal sepele. Kenapa sih harus ngurus cara berpakaian orang lain?. Karena dalam Islam, berpakaian saja ada syarat syarat yang harus terpenuhi. Maka dalam hal yang lebih besar pun, dalam Islam pasti ada banyak syarat juga. Satu tahun itu bukan waktu yang lama, maka ketika kita tidak meninggalkan hal-hal yang bermanfaat, walaupun kecil, maka akan sangat rugi. Mungkin orang lain bisa memberikan konstribusi jasa lebih banyak daripada kita. Tidak mengapa. Mungkin dengan nasehat kita setiap harinya. Mengingatkan mereka shalat ketika sudah tiba waktunya, membangunkan mereka shalat tahajud atau membantu mereka menjawab pertanyaan tentang satu dua hal yang mereka tidak tahu, itu akan menjadi kenangan indah mereka ketika sudah besar nanti.

Sebagai paragraph penutup, bukankan semua kebiasaan butuh awal dan permulaan, begitu pula dengan jejak jejak kebaikan, ketika kita mau memulai, maka tidak akan ada yang namanya JEJAK.

Oleh : Maulida Fortuna

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.
Kontak kami via WhatsApp